Pesan untuk Ayuri

Anak kecil yang berkeliaran pagi hari sebelum berangkat sekolah dengan membawa sendal hijau ukuran 39 itu adalah anakku.

Ayuri sejak kecil jarang kita batasi untuk explore dunianya. Sejak dia bisa merangkak, kita jarang menghalang-halangi untuk menyusuri sudut rumah. Malah kita mengajarkannya bahwa dunia ini bisa dijelajahi dengan merangkak, kita kenalkan rumput, tanah, air, kasar, halus, tajam, dan lainnya. Terlebih ketika Ayuri sudah bisa jalan dan sekarang mulai lari kecil-kecilan, mobilitasnya benar-benar tinggi. Karena pola yang sudah kita buat sebelumnya, Ayuri jadi berani kemana-mana jauh dari pandangan kita. Pernah suatu pagi habis mandi nunggu berangkat sekolah, dia jalan keluar sendiri nyusurin ujung jalan dekat rumah. Gak gua ikutin, cuman dipantau dari jauh memastikan dia tidak ke jalan yang banyak kendaraan. Dia muter-muter kayak gangsing, kemudian tau waktunya kembali.

Pagi ini, dia keluar rumah sendiri bawa sendal ijo gua. Rumah gua dan jalan depan rumah ada turunan lumayan curam untuk ukuran batita, tapi dia punya caranya sendiri untuk bisa melewati itu. Dia nyerodot pake pantatnya, kemudian coba-coba pake sendal gua buat jalan-jalan di luar. Karena kegedean, akhirnya dia jalan-jalan nyeker. Semuanya cuma gua liatin.

Pada dasarnya, gua mau dia kuat menghadapi dunianya. Dunia yang tidak akan lunak di hadapan siapapun. Dan gua mau dia menghadapi itu. Merasakan apa itu sakit, menikmati apa itu sedih. Pernah di satu hari dia penasaran sama makanan gua yang pedes. Gua persilakan dia ambil sendiri, kemudian kita tau apa selanjutnya, dia kepedesan. Merengek sambil ngusap-ngusap lidahnya karena kepedesan. Setelah itu dia diam dan berenti ganggu makanan gua.

Banyak larangan-larangan orang tua dulu yang gua abaikan dalam mendidik anak. Kayak dilarang-larang keluar rumah. Anak ini justru gua dorong untuk keluar rumah sendiri, gua cuma ngeliatin dari bibir pintu. Kemudian, kalo keluar rumah pake alas kaki. Gua dan Ayuri hampir setiap pagi kalo nunggu berangkat sekolah, nyeker keluar rumah buat jalan-jalan atau liat kucing. Ngacak-ngacak barang-barang. Kayaknya dia seneng banget liat rumah berantakan. Mainan, buku, baju, botol, gelas, tempat makan. Itu sering dia berantakin, tapi jarang kita cegah. Kita cuma ngeliatin dia berantakin itu semua, setelah bosen, kita ajak buat beresin itu lagi. Dia nurut beresin tapi belum sampai bener-bener beres. Gak apa, gua percaya waktu dan proses.

Waktu ini juga yang menjawab pola yang kita bangun beberapa bulan lalu ketika dia mulai tau denah rumah. Karena sebelumnya kita kasih kepercayaan buat explore sudut rumah, dia jadi percaya diri banget juga buat ngacak-ngacaknya. Tapi tetep kita kasih pengertian bahwa semua harus dipertanggungjawabkan. Mungkin terlalu dini buat ngajarin itu, tapi gua rasa tidak ada yang terlalu cepat untuk belajar tentang kehidupan.

Ayuri sekarang jadi anak yang periang ketika di luar. Dia bisa tiba-tiba nyapa "Kakak" ketika kita berdua lagi di bus dan ketemu bocil stranger saat perjalanan pulang ke rumah habis kondangan di Bekasi, dia bisa muter-muter di halaman masjid tanpa takut kalo gua hilang dari pandangannya, dan dia jarang banget nangis menggila ketika tau Ibunya gak ada. Memang Ibu, tempatnya ngadu. Ketika ada Ibunya, dia kayak gak tau kondisi, bisa jadi manja dan cengeng banget di waktu tertentu. Tapi ketika gua cuma berdua sama dia, dia menghadapi dunianya dengan berani. Sepertinya dia tau, kalo sesuatu terjadi sama dia, gua cuma bakal liatin dan gak bakal langsung bantu.

Mungkin gua bukan Bapak yang sempurna. Tapi gua mau jadi Bapak yang ngajarin dia tentang kehidupan, sebab akibat, dan cara kerja dunia.

Mungkin masih cukup lama. Tapi gua menantikan dia yang selalu pamit keluar rumah untuk ngikutin kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan alam, demonstrasi, dan kegiatan baik lainnya.

Nak, ketika Ayuri baca tulisan ini, Ayah mau tahu kamu beberapa hal. Ayah tidak menolong kamu saat kesulitan jalan menanjak, menurun, melewati rintangan, jatuh, dan banyak hal lainnya dan Ayah biarkan kamu melewatinya sendiri, karena waktu berjalan, Nak. Ayah tidak akan selalu ada di sisi, bahkan saat kamu benar-benar membutuhkan. Naif rasanya kalau Ayah berjanji akan selalu ada untukmu, padahal Ayah bisa saja mati kapanpun. Maka belajarlah berdikari. Pertolongan tidak akan selalu hadir untukmu, tapi semoga kamulah pertolongan untuk setiap lingkaran-lingkaran kecil yang ada di sekitarmu.


Jakarta, 26 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arunika Yumna Rinjani

Polisi Bodoh

Jumbo dari Ayah Ayuri