Postingan

Pesan untuk Ayuri

Gambar
Anak kecil yang berkeliaran pagi hari sebelum berangkat sekolah dengan membawa sendal hijau ukuran 39 itu adalah anakku. Ayuri sejak kecil jarang kita batasi untuk explore dunianya. Sejak dia bisa merangkak, kita jarang menghalang-halangi untuk menyusuri sudut rumah. Malah kita mengajarkannya bahwa dunia ini bisa dijelajahi dengan merangkak, kita kenalkan rumput, tanah, air, kasar, halus, tajam, dan lainnya. Terlebih ketika Ayuri sudah bisa jalan dan sekarang mulai lari kecil-kecilan, mobilitasnya benar-benar tinggi. Karena pola yang sudah kita buat sebelumnya, Ayuri jadi berani kemana-mana jauh dari pandangan kita. Pernah suatu pagi habis mandi nunggu berangkat sekolah, dia jalan keluar sendiri nyusurin ujung jalan dekat rumah. Gak gua ikutin, cuman dipantau dari jauh memastikan dia tidak ke jalan yang banyak kendaraan. Dia muter-muter kayak gangsing, kemudian tau waktunya kembali. Pagi ini, dia keluar rumah sendiri bawa sendal ijo gua. Rumah gua dan jalan depan rumah ada turunan lu...

Polisi Bodoh

Polisi Indonesia adalah anjing-anjing pemerintah. Pemakan bualan busuk pejabat dan penjilat sejati pemerintah. Apapun mereka lakukan untuk promosi, padahal sempak mereka dibeli dari uang kami yang dibayarkan melalui pajak. Satu rupiah pun kami tak sudi dipakai oleh mereka, bahkan sempak-sempak mereka pun kalau bisa dilepas lalu saya bakar. Najis senajis-najisnya dengan polisi. Berita semalam menunjukkan bahwa mereka adalah sampah-sampah bau busuk yang lebih busuk dari tai di tempat pembuangan sampah. Manusia yang sedang unjuk rasa digeleng oleh besi berlapis baja beroda empat. Setelah digeleng, kemudian pergi yang semoga ke neraka. Tabrak lari yang penjahat jalanan pun tak tega lakukan. Hei, polisi-polisi bodoh. Kalian itu bertugas mengamankan, bukan menggeleng bahkan membunuh. Bodoh. Tupoksi saja tidak tahu, pantas kalian jadi polisi. Bodoh. Dan lebih bodohnya lagi, kalian melindungi orang-orang di dalam gedung yang pendingin ruangannya menyala sedang santai-santai, bodoh. Kalian kok ...

Setahun Ayuri

Selamat setahun, anakku, Arunika Yumna Rinjani. Seru bukan, kehidupan setahun ini bersama kami? Bapak yang gila dan Ibu yang gila karena Bapaknya gila. Setahunnya Ayuri sangat kami syukuri. Lahirnya Ayuri menjadi semangat baru untuk saya menghadapi kehidupan yang diacak-acak Prabowo ini. Meskipun kehidupan diacak-acak, tetap ada alasan untuk terus hidup; Ayuri dan Shabrina.  Ayuri menjadi gadis yang menemani hari-hari saya yang gila ini. Tawa dan candamu memberikan kekuatan. Begitu kata Barasuara. Bicara-bicara, ketika saya menghayati lagu itu, lagu Tenggelam Dalam Waktu. Wajah yang terbayang adalah Shabrina dan Ayuri. Betapa mereka berdua mengubah hidup saya yang sempat berantakan, kemudian ditata kembali oleh Shabrina, dan dihias oleh Ayuri. Setiap pulang kerja, saya seringkali mencium kening Shabrina dan Ayuri ketika mereka sudah tertidur. Entah kenapa, reflek saya melakukan itu sejak menikah, Shabrina hamil, dan sampai saat ini Ayuri sudah setahun. Semua berjalan cepat tapi ter...

Jari Kaki Anakku

Hari ini tepat 10 bulan usia anak gua. Ayuri tumbuh jadi anak yang riang, positive vibes , dan unik bagi gua. Keunikan Ayuri yang mungkin juga terjadi di bayi-bayi lain adalah soal main. Ketika dia hepi, dia bakal seru banget main sama gua. Entah nyanyi, ngacak-ngacak mainan, atau teriak-teriak gak jelas. Energinya bener-bener super untuk ukuran bayi 10 bulan. Tapi ketika dia ngantuk dan bete, dia bakal mereog mencari Ibunya. Nggak betah digendong, diajak main, atau setidaknya mengalihkan perhatiannya. Dia bakal meraung-raung tanpa air mata sampe nempel Emaknya dan nenen. Kayak gua ini tempat bagian seneng-senengnya doang, Shabrina tempat keluh kesahnya. Gua berharap kebiasaanya ini tidak bertahan sampai dia gede. Gua juga mau jadi tempat dia ngeluarin keluh kesah dan tempat dia nyari kesenangan. Bukan cuma gua, Shabrina pun harusnya begitu. Ayuri punya wajah yang lucu, beda sama gua yang mukanya kayak genteng ini. Gua sampai mencari-cari apa bagian fisik yang mirip antara gua dan dia...

Bertumbuh

Arunika Yumna Rinjani, Ayuri, Yumna, menjadi anak pelipur lara kedua orang tuanya. Si Gemas ini menjadi obat buat capeknya gua ketika pulang kerja. Kelakuan-kelakuannya, ketawanya, senyumnya, sampe skill-skill barunya membuat gua semakin exited untuk menjadi orang tua yang terbaik buat dia. Kilas balik ke beberapa bulan lalu, ke waktu dia masih newborn . Shabrina mengaku kalau dia hampir aja baby blues , aliran musik baru untuk ibu-ibu yang baru punya bayi. Karena saat itu kita beneran jadi orang tua, setelah 10 hari sejak Ayuri lahir, kita ditinggal Bapak-Ibu gua ke Tangerang dan dalam pemantauan dari Abi-Umi di rumah terpisah. Jadi ketika Bapak-Ibu pulang, kita berdualah yang ngedengerin nangisnya, ngegendong, nenangin, mandiin, ganti baju, dan segala macamnya berdua. Hampir 90% waktunya sama orang tuanya. Terlebih setelah cuti gua kelar, Shabrina yang lebih banyak menghabiskan waktu berdua, beberapa kesempatan ditemenin Umi dan Abi. Saat itu yang gua khawatirin adalah gua kebagian s...

Prinsip Pak Jimi

Perkenalkan kembali, saya Jimi Ahmad Firlana. Saat ini usia saya 25 tahun sedang menuju 26 di tahun ini. Dan saya seorang Bapak. Saya menikah dengan perempuan impian saya 2023 lalu, kemudian kami dikaruniai putri cantik di tahun 2024. Ketika anak saya lahir, Ibu berguyon, " Anak-anak punya anak ". Perjalanan hidup kadang terasa cepat, kadang melambat. Saya yang merasa baru saja lulus kuliah, saat ini sudah harus bertanggungjawab dan menghidupi dua perempuan titipan-Nya. Saya tidak memungkiri jika perjalanannya tidak mudah, terutama perjalanan cinta dengan Shabrina, pun demikian dengan bertambahnya putri kami. Banyak kesulitan dan lebih banyak kebahagiaan yang Saya rasakan. " Ternyata begini rasanya Bapak saya dulu merawat anak manusia ", begitulah kata yang berputar di kelapa setelah beberapa bulan ketambahan anggota. Saya mengakui jika saya tidak sebegitu mahirnya merawat seorang anak, khususnya putri. Saya juga tidak ikut kelas parenting. Saya mencari atau kebetul...

Jumbo dari Ayah Ayuri

Film karya Rian Adriandhy, klaimnya menghabiskan waktu lima tahun untuk menggarapnya. Sukses membuat orang tua seperti gua dan Shabrina menitikkan beberapa gelas air mata. Filmnya tentang bocah gendut yatim piatu yang di- bully di tongkrongannya, dianggep apa-apa yang dia lakuin pasti bakal gagal dan nyusahin ketika tergabung dalam tim. Bocah gendut yang dibikinin buku dan lagu sama orang tuanya. Buku yang hampir setiap waktu dia ceritain ke temen-temennya sampe temen-temennya bosen. Kemudian ada setan yang jadi temen dia, lalu mereka mementaskan pertunjukkan spektakuler dan mengungkap kasus pembangunan di kampungnya. Dari alur dan jalan cerita, filmnya nggak bikin orang terlalu mikir dan mudah dimengerti. Ceritanya menurut gua lebih berfokus pada proses-proses untuk mencapai tujuan dan konflik-konflik anak-anak tentang ego dan janji. Kemudian, karena film ini untuk semua umur, jadi cocok buat film keluarga. Film ini juga menurut gua lebih ngena buat para suami-istri yang udah punya a...