Kehidupan yang Baru dan Perubahan

Kehidupan itu dinamis. Polanya selalu berubah dan kita dituntut siap menghadapi perubahan yang kadang datang cepat. Beberapa hari ini ramai kabar rupiah melemah dan nilai tukar dolar per 6 Juni 2026 menyentuh Rp18.026. Jujur aja, gua nggak terlalu peduli karena gua orang desa yang sehari-hari nggak pakai dolar. Tapi sebagai rakyat yang baik, kita tetap harus menyikapi setiap pernyataan dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dengan bijak. Gua gak percaya orang-orang yang mewakili kita saat ini adalah orang yang kompeten di bidangnya. Contohnya Bahlil ganteng.

Perubahan itu juga lagi terjadi di hidup gua. Sekarang pola kerja gua sudah nggak shifting lagi. Gua mulai kerja seperti kebanyakan orang: masuk pagi, pulang sore. Tapi karena domisili di Depok, gua tetep berangkat pagi banget dan sampai rumah menjelang Magrib.

Perubahan jam kerja ini otomatis ngubah pola yang sebelumnya sudah terbentuk di rumah. Sekarang gua harus siap dan rapi dari pagi-pagi banget, mandiin anak, nyiapin bekal, dan kadang berangkat dengan rasa ngantuk yang masih nempel. Dulu, setelah bantu nyiapin keperluan istri dan anak, gua masih bisa tidur lagi sebelum berangkat kerja.

Awalnya tentu butuh penyesuaian. Syukurnya gua, istri, dan anak sama-sama kooperatif. Anak gua yang bahkan belum genap dua tahun sekarang sudah bisa diajak mandi bareng jam setengah enam pagi dengan air dingin. Dari bayi memang dia doyan banget main air. Jarang rewel kalau ketemu air, mau itu mandi, cuci tangan, cuci muka, atau sekadar main basah-basahan.

Ayuri juga berkembang jauh lebih cepat dari yang gua bayangkan. Ada yang bikin senang, ada juga yang bikin sabar. Sekarang dia sudah mulai bisa diajak komunikasi dua arah. Dia ngerti apa yang kita bilang dan mulai bisa menyampaikan kebutuhan atau keinginannya sendiri. Dia sudah bisa minta sesuatu, protes kalau keinginannya belum bisa dipenuhi, ngajak main, salat, sampai ngajak makan. 

Yang paling bikin gemes itu saat waktu makan tiba, tapi makanannya belum siap. Dia bakal nyerocos dengan bahasa bayinya:

"Ayo makan."

"Akanan Una mana?"

"Lapey, Au akan."

"Sendok Una mana?"

Sampai sekarang Ayuri masih belum bisa melafalkan huruf "R", jadi semuanya berubah jadi "Y". Dan entah kenapa, itu bikin setiap ucapannya terdengar jauh lebih lucu.

Hal yang paling gua syukuri dari perubahan jam kerja ini adalah waktu bersama keluarga. Kadang gua bisa pulang lebih cepat, lalu sampe di rumah ada bocah kecil yang keluar dari balik pintu buat nyambut gua dengan berbagai ekspresinya. Rasanya menenangkan banget. Rasa suntuk, capek, dan kesal karena perjalanan pulang sering kali langsung hilang begitu denger ocehannya.

Waktu bersama istri juga jadi lebih berkualitas. Kiya bisa makan malam bareng sambil ngobrol atau jalan-jalan saat akhir pekan, sesuatu yang dulu cukup sulit dilakukan karena jadwal kerja gua.

Ada satu hal yang akhirnya gua sadari dari perjalanan hidup, terutama soal karier. Sampai hari ini, Allah selalu mengabulkan apa yang gua minta, meskipun sering kali dengan cara yang nggak persis seperti yang gua bayangkan.

Dulu gua pernah minta pekerjaan yang nggak terlalu banyak mikir. Dikabulkan, tapi kerjaannya kasar dan setiap hari angkat beban yang kalau ditotal mungkin bisa sampai satu ton.

Lalu gua minta pekerjaan yang duduk di depan komputer. Dikabulkan juga, tapi jam kerjanya shifting dan jadwal liburnya nggak nentu.

Setelah itu gua minta pekerjaan yang memberi lebih banyak waktu untuk keluarga. Dan sekarang, di sinilah gua berada.

Hidup memang selalu berubah. Tulisan yang gua buat saat ini adalah hasil dari jejak-jejak pilihan yang pernah gua ambil di masa lalu, yang berjalan berdampingan dengan kehendak-Nya. Ada beberapa pilihan yang masih gua sesali, tapi jauh lebih banyak hal yang bisa gua syukuri.

Jadi untuk saat ini, tujuan utama gua sederhana: tetap hidup. Sisanya adalah tujuan-tujuan turunan yang bisa berubah seiring waktu.

Jakarta, 6 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arunika Yumna Rinjani

Polisi Bodoh

Setahun Ayuri