Postingan

Sajak U

Gambar
Jaga dirimu Aku menabung dulu Untuk aku, keluargaku, semoga juga untuk dirimu Jika nanti memang tak bertemu Semoga kamu bahagia selalu Bersama siapapun yang memang sudah takdirnya untukmu Bersama siapapun yang dapat membuatmu bahagia di kala sendu Tapi, semoga itu diriku Yang sedang menabung dulu Melupakan beberapa mimpiku Namun mengejar salah satu mimpiku Mimpi untuk bersamamu

Gelap

Di jalan panjang yang gelap itu, aku ternyata sendiri Hanya ada aku dan cahaya lampu yang sudah menyala sebelum aku datang Aku memilih jalan ini, karena aku rasa, aku akan lebih cepat sampai Ya, memang aku lebih cepat sampai Tapi aku meninggalkan semuanya di persimpangan jalan Yang lain menyusuri jalan ramai dan terang benderang bersama-sama Sedangkan aku menyusuri jalan gelap sendirian Akhirnya memang akan bertemu di ujung jalan yang sama Tapi di persimpangan tadi, aku tanggalkan impian, cita-cita, teman, sahabat, dan idealisme Aku memilih menyusuri jalan gelap sendirian Mungkin banyak yang menyayangkan, mengapa aku akhirnya memilih jalan ini Setelah memilih untuk melewati jalan ini, aku memilih untuk tidak banyak bercerita tentang kenapa aku memilih jalan gelap ini Dan jalan gelap seperti apa yang aku pilih

Perjalanan Terakhir: Akhir dari Sebuah Petualangan

Gambar
Sebelum saya bercerita sedikit tentang perjalanan kali ini, saya ingin berterima kasih kepada kawan perjalanan saya, Satrio dan Angga Saputra. Tanpa mereka, perjalanan seru ini mungkin tidak akan seseru ini, atau mungkin tidak akan terjadi. Dua kawan perjalanan yang tidak perlu diragukan lagi ketangguhannya. Mulai dari berangkat dengan sepeda motor. Menempuh jarak sekitar 600 KM, mereka masih bisa tertawa di antara kantuk saat mengendarai sepeda motor, masih bisa tersenyum setelah malam panjang di perjalanan yang melelahkan, masih mau menahan bool panas yang beradu dengan jok motor. Sampai pada akhirnya waktu pulang, setelah menelan 1000 KM lebih, mereka masih mau tertawa di antara motor mogok saat tengah malam. Tak lupa juga kepada kawan perjalanan yang lain, Wahyu Saputra, Aziz Fauzi, Djilzaran Nurul, dan Bayu Suta. Terima kasih sudah bergabung, menampung, dan memeriahkan perjalanan ini. Serta orang-orang baik yang ditemui selama perjalanan. - Semua berawal dari Kota Solo. Setelah me...

[Ruang Opini] Wisata Bencana - Erupsi Semeru

Gambar
  Tangkapan layar di atas cukup menunjukkan bagaimana masyarakat kita sulit memposisikan diri saat ada peristiwa duka di tanah air. Pada tulisan ini, gua bukan mau bercerita tentang diri gua. Berharap suatu hari gua membaca tulisan ini, bahwa pernah ada kejadian memalukan ketika di suatu daerah yang mengalami bencana. Maaf, koreksi. Bukan pernah, tapi sering ada kejadian memalukan. Kenapa gua sebut memalukan? Karena hal ini sangat tidak pantas di lakukan oleh manusia jika tujuannya untuk eksistensi. Garis bawahi kata eksistensi . Gua membuat rubrik berjudul Ruang Opini. Isinya adalah opini-opini gua tentang berbagai hal yang ingin gua tulis di blog ini. Opininya mungkin tidak selalu benar, tapi opininya adalah murni pandangan gua tentang hal tersebut. Membahas tentang Wisata Bencana. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Ketika terjadi bencana di suatu tempat, entah itu gempa bumi, longsor, tsunami, atau yang baru-baru ini terjadi, erupsi Gunung Semeru, hampir selalu ada orang-orang bod...

Fa.na

Kata orang, dunia ini fana. Tapi tidak bagiku. Bagiku, dunia ini sangat fana. Terlihat dari banyaknya orang berlomba-lomba memperlihatkan kesedihannya, memperlihatkan bagaimana mereka sengsara, dan memperlihatkan kesulitannya untuk mendapatkan perhatian dari manusia lainnya yang tentu saja tidak peduli. Karena memang tidak ada yang peduli. -Dalam Commuter Line Jabodetabek, ketika jam berangkat dan pulang kerja- Ketika jam berangkat kerja, orang-orang merasa merekalah yang paling telat. Lari tanpa memperhatikan siapa di samping, depan, belakang, bahkan atas, yang selalu memperhatikannya tanpa kenal tempat dan waktu. Ketika jam pulang kerja, apalagi. Orang-orang berlomba-lomba menjadi aktor, memperlihatkan bahwa merekalah yang paling lelah setelah menghadapi hari. Terkesan Senin sampai Jumat menjadi raja terakhir yang terus berulang. Kau ibu-ibu tua yang lelah berjualan di pasar? Aku tak peduli, aku seharian bekerja duduk di kantor dengan pendingin udara, dan aku sekarang lelah, ingin du...

Gunung Rogojembangan? Puncak Tertinggi Pekalongan

Gambar
Pagi ini, saya sedang menganggur. Tidak melakukan apa-apa dan tidak ada yang dilakukan. Jadi, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mendaki sebuah gunung yang tidak familiar di kalangan para penikmat puncak gunung. Rogojembangan.  Secara administrasi, gunung ini berada di kawasan Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah. Saya mendaki gunung ini pada tahun 2019. Sudah cukup lama, tapi semoga masih bisa menceritakan setiap perjalanannya secara detail. 14 Januari 2019, saya berangkat bersama kawan saya bernama Demong mengendarai sebuah motor matik dari kota bernama Tangerang. Pukul 21.00 berangkat dari Tangerang. Sampai di Gunung Ciremai pada tanggal 15 Januari 2019, kurang lebih pukul 13.00. Kenapa kok ke Gunung Ciremai? Karena sebelum ke Rogojembangan, saya ke Ciremai dulu berdua. Skip saja bagian Ciremainya, bisa diceritakan lain hari. Setelah dari Gunung Ciremai, saya menyambangi kediaman mbah kawan saya yang lain di Tegal. Kawan saya ini bernama Bayu. Dia sudah menunggu di...

Commuter Line

 Aku memilih untuk banyak belajar dari apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan. Suatu ketika, aku sedang berjalan jauh dengan trasportasi umum bernama Commuter Line. Anak muda seumuranku baru saja masuk bersamaku ke dalam sebuah gerbong. Lalu, ia langsung duduk di sebuah tempat duduk yang kosong. Aku? Memilih berdiri di tempat favoritku; samping pintu. Beberapa stasiun berlalu, ada seorang ibu paruh baya masuk. Ia terlihat lelah seperti sudah dipecundangi hari. Lantas apa yang terjadi? Anak muda seumuranku tadi langsung memejamkan matanya. Memang keadaan dalam gerbong itu cukup penuh. Tempat duduk pun penuh setelah melewati beberapa stasiun. Ironis. Ia memilih tidur dibandingkan memberikan tempat duduknya kepada ibu tadi. Aku memperhatikan sejenak, lalu kemudian orang itu datang, mencari orang yang pantas tempat duduknya diberikan kepada ibu tadi. Lalu berdirilah perempuan yang kelihatannya baru saja pulang dari kantornya. Berkalungkan lanyard, rambut terkuncir, dengan rok sebetis....