Postingan

Kebenaran Terus Hidup

Banyak kemungkinan-kemungkinan di dunia ini yang akan terjadi di hidup kita. Beberapa yang terlewat kadang kita sesali, beberapa yang sesuai harapan kita syukuri. Saya sendiri berpandangan jika sesuatu yang terjadi di hidup kita bukan sebuah kebetulan, melainkan memang sesuatu yang sudah berjalan sesuai jalurnya. Pandangan ini menjadi pisau bermata dua. Karena akan menimbulkan sifat yang tidak memperjuangkan sesuatu yang ia inginkan karena beranggapan semuanya sudah ada, tinggal hidup saja. Kita hidup dengan ketidakadilan yang dianggap normal. Tak jarang kata-kata dari orang angkatan lawas terdengar, “ Gua juga dulu begitu, lebih parah malah ”. Malangnya. Tidak melawan pada ketidakadilan, hanya menggerutu ketika angkatan muda baru merasakannya. Kita dibiasakan untuk menunduk ketika kesenjangan itu menyerang. Menganggap kita sangat membutuhkan, sampai dibutakan, padahal darah kita sedang diperas habis-habisan. Ketika darah kita habis dan sudah tidak bias memberikan kontribusi, kita dibu...

Malam Gelap Terang

Anakku, Ayah beberapa Minggu ini selalu berkaca-kaca ketika bersua denganmu yang masih di dalam perut Ibumu. Ayah merasakan kekuatan hebat di dalam sana. Entah kenapa perasaan itu muncul. Semuanya berawal dengan obrolan kita di malam itu, Nak. Ketika Ayah meminta kepada kamu untuk tidak khawatir jika Ayah tidak punya pekerjaan, karena Ayah tahu semuanya sudah disiapkan untuk Ibumu, bahkan kamu, Nak. Ayah awalnya hanya bercerita tanpa pernah mengharap balas darimu. Namun malam itu tangis Ayah pecah karena kamu seperti menjawab, memberikan sentuhan bagian tubuhmu melewati perut Ibumu, seakan kamu berbicara, “Iya, tenang, Ayah. Semuanya sudah disiapkan. Ayah juga tidak perlu khawatir. Aku dan Ibu akan baik-baik saja, karena Allah bersama kita”. Ayah menangis sejadi-jadinya malam itu. Dunia seperti berputar. Ayah menemukan titik terang di jalan yang gelap gulita. Di titik terang itu, Ibumu sedang menunggu bersamamu di dalamnya. Ayah kembali. Kamu menyadarkan kembali bahwa memang semuanya s...

[PMS] Perjalanan Menikahi Shabrina

Gambar
Assalamualaikum, Dunia. Gua kembali dengan tulisan yang sebenarnya nggak penting-penting amat, tapi tulisan ini suatu saat menjadi penting karena telah menjadi sejarah hidupnya seorang Jimi. * Tulisan kali ini gua beri judul "Perjalanan Menikahi Shabrina". Perlu diketahui, saat gua menulis ini, status gua sudah menjadi seorang suami orang, suami Shabrina. Kita menikah di 29 Oktober 2023 lalu, tepat di hari ulang tahun Shabrina yang ke-26. Perjalanan cinta gua bukan perjalanan yang mulus-mulus aja. Mungkin beberapa temen mengira kalau gua dan Shabrina selama menjalani kisah yang selalu penuh kebahagiaan, kesantaian, dan penuh tawa. Tidak, lawak. Perjalanannya sungguh berat dan banyak pengorbanan yang masing-masing kita keluarkan. * Kilas balik ke 2016. Saat ini gua kenal perempuan ini. Sesuatu yang pasti gua ceritakan kenapa akhirnya gua menyukai perempuan ini ke orang-orang adalah kacamatanya. Orang aneh, jatuh cinta dengan cara yang aneh juga. Unik sekali dunia ini dilihat d...

Semua Pernah Putus Asa

Bu, Pak, anakmu izin untuk pergi sejenak. Entah kembali atau mungkin mati. Hatinya sakit tak berkesudahan. Benci pada dunia, hingga berada di titik membenci diri sendiri.  Di perkumpulan, ia tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Di kesendirian, ia menangis terisak hingga tertawa terbahak-bahak, sambil menangis. Ia ingin mengobati luka yang entah apa obatnya.  Anakmu egois, Bu. Anakmu keras kepala, Pak.  Perempuan menyebutnya lemah, laki-laki menyebutnya cengeng. Katanya dunia ini berputar, tapi Ia merasa dunia ini tidak berputar, dan kebetulan Ia sedang berada di bagian bawah dunia.  Perempuan menyebutnya sampah, laki-laki menyebutnya pecundang. Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Ia ingin mati saat ini juga. Bekasi, 29 Juli 2022

Bapakku Penjual Kopi Keliling

"Selamat malam, Jim. Blog nggak keurus nih, lagi pusing biaya kawin, ya?" Begitulah kata Jimi 2023 ke Jimi 209999. * Malam ini gua mau cerita tentang Bapak gua. Bapak yang sudah 23 tahun lebih membesarkan gua. Nggak banyak interaksi atau komunikasi yang kita buat. Obrolan intim jarang banget kebentuk, tapi semoga itu tidak mengurangi rasa sayang kepada Bapak yang bernama Rusdiyono ini. Satu fakta menarik tentang nama Bapak gua. Sekitar 13 tahun lalu, menjelang UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional), gua dan anak-anak SD Sukamulya 1 diminta data-data pribadi, kayak nama sesuai akte kelahiran, tanggal lahir, nama orang tua, dll. Pada saat itu, gua ngadu ke Ibu gua karena gua dari lahir nggak punya dokumen akte kelahiran. Tidak punya akte ini bukan tanpa alasan. Gua berasumsi dari cerita orang tua gua. Gua dulu lahir di mobil pada saat perjalanan ke rumah sakit buat ngelahirin gua. Jadi, tidak ada pencatatan secara tertulis di mana dan waktu pada saat gua lahir. Kembali...

Jakarta Tidak Mengubahku

Gambar
Aku masih sama Masih memakai baju yang begitu-begitu saja Masih memakai sepatu kets buluk itu Masih mengendarai motor yang sama Masih menikmati orek tempe dengan ikan teri Masih meminum air yang sama Masih dekil seperti kamu terakhir lihat Masih bisa tidur di depan ruko yang sudah tutup Masih bodoh. Obrolan bodoh terakhir yang kamu dengar, masih sering keluar di waktu yang tak tentu Masih tidak berkaca ketika pergi ke mana pun Masih tidak sisiran Masih dengan sarung yang sama Masih terlihat belum mandi meskipun sudah mandi Masih tidur gaya helikopter Masih sayang Ibu dan Bapak Yang terpenting, masih mencintai orang yang sama Yang berbeda adalah ketika kita bertemu, berbincang cukup lama, dan kamu menemukan perbedaan itu

Setelah Perjalanan Terakhir #1

Sudah lama sekali tidak menulis di blog yang jauh dari layak ini. Ah, layak atau tidaknya, gua sendiri yang menilai. Toh, tulisan-tulisan di sini tidak gua khususkan untuk publikasi ke orang banyak, melainkan untuk bahan kenang-kenangan gua nanti. Saat gua nulis, mungkin tulisannya nggak bergitu berharga. Tapi, beberapa tahun lagi, gua yakin tulisan ini penuh memori kenangan yang nano-nano rasanya. Oke. Jadi, di tulisan kali ini, gua mau certain perjalanan panjang gua setelah gua mengakhiri Perjalanan Terakhir. Untuk pertama kalinya, gua buka cerita ini ke media. Sebelumnya, gua menutup-nutupi kehidupan gua setelah perjalanan terkahir itu. Dimulai dari mana, ya? Dimulai dari kepulangan gua deh.  *** Saat gua pulang dari Solo, tujuan akhir waktu itu adalah rumah Angga. Setelah sampe rumah Angga, paginya, gua dan Uwo harus ke Serang gua memenuhi janji untuk naik Gunung Karang sama Pabrik Pigur saat itu. Skip lah bagian ini. Sampailah di mana gua kembali bekerja di Untir...