Postingan

Perjalanan Terakhir: Akhir dari Sebuah Petualangan

Gambar
Sebelum saya bercerita sedikit tentang perjalanan kali ini, saya ingin berterima kasih kepada kawan perjalanan saya, Satrio dan Angga Saputra. Tanpa mereka, perjalanan seru ini mungkin tidak akan seseru ini, atau mungkin tidak akan terjadi. Dua kawan perjalanan yang tidak perlu diragukan lagi ketangguhannya. Mulai dari berangkat dengan sepeda motor. Menempuh jarak sekitar 600 KM, mereka masih bisa tertawa di antara kantuk saat mengendarai sepeda motor, masih bisa tersenyum setelah malam panjang di perjalanan yang melelahkan, masih mau menahan bool panas yang beradu dengan jok motor. Sampai pada akhirnya waktu pulang, setelah menelan 1000 KM lebih, mereka masih mau tertawa di antara motor mogok saat tengah malam. Tak lupa juga kepada kawan perjalanan yang lain, Wahyu Saputra, Aziz Fauzi, Djilzaran Nurul, dan Bayu Suta. Terima kasih sudah bergabung, menampung, dan memeriahkan perjalanan ini. Serta orang-orang baik yang ditemui selama perjalanan. - Semua berawal dari Kota Solo. Setelah me...

[Ruang Opini] Wisata Bencana - Erupsi Semeru

Gambar
  Tangkapan layar di atas cukup menunjukkan bagaimana masyarakat kita sulit memposisikan diri saat ada peristiwa duka di tanah air. Pada tulisan ini, gua bukan mau bercerita tentang diri gua. Berharap suatu hari gua membaca tulisan ini, bahwa pernah ada kejadian memalukan ketika di suatu daerah yang mengalami bencana. Maaf, koreksi. Bukan pernah, tapi sering ada kejadian memalukan. Kenapa gua sebut memalukan? Karena hal ini sangat tidak pantas di lakukan oleh manusia jika tujuannya untuk eksistensi. Garis bawahi kata eksistensi . Gua membuat rubrik berjudul Ruang Opini. Isinya adalah opini-opini gua tentang berbagai hal yang ingin gua tulis di blog ini. Opininya mungkin tidak selalu benar, tapi opininya adalah murni pandangan gua tentang hal tersebut. Membahas tentang Wisata Bencana. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Ketika terjadi bencana di suatu tempat, entah itu gempa bumi, longsor, tsunami, atau yang baru-baru ini terjadi, erupsi Gunung Semeru, hampir selalu ada orang-orang bod...

Fa.na

Kata orang, dunia ini fana. Tapi tidak bagiku. Bagiku, dunia ini sangat fana. Terlihat dari banyaknya orang berlomba-lomba memperlihatkan kesedihannya, memperlihatkan bagaimana mereka sengsara, dan memperlihatkan kesulitannya untuk mendapatkan perhatian dari manusia lainnya yang tentu saja tidak peduli. Karena memang tidak ada yang peduli. -Dalam Commuter Line Jabodetabek, ketika jam berangkat dan pulang kerja- Ketika jam berangkat kerja, orang-orang merasa merekalah yang paling telat. Lari tanpa memperhatikan siapa di samping, depan, belakang, bahkan atas, yang selalu memperhatikannya tanpa kenal tempat dan waktu. Ketika jam pulang kerja, apalagi. Orang-orang berlomba-lomba menjadi aktor, memperlihatkan bahwa merekalah yang paling lelah setelah menghadapi hari. Terkesan Senin sampai Jumat menjadi raja terakhir yang terus berulang. Kau ibu-ibu tua yang lelah berjualan di pasar? Aku tak peduli, aku seharian bekerja duduk di kantor dengan pendingin udara, dan aku sekarang lelah, ingin du...

Gunung Rogojembangan? Puncak Tertinggi Pekalongan

Gambar
Pagi ini, saya sedang menganggur. Tidak melakukan apa-apa dan tidak ada yang dilakukan. Jadi, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mendaki sebuah gunung yang tidak familiar di kalangan para penikmat puncak gunung. Rogojembangan.  Secara administrasi, gunung ini berada di kawasan Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa Tengah. Saya mendaki gunung ini pada tahun 2019. Sudah cukup lama, tapi semoga masih bisa menceritakan setiap perjalanannya secara detail. 14 Januari 2019, saya berangkat bersama kawan saya bernama Demong mengendarai sebuah motor matik dari kota bernama Tangerang. Pukul 21.00 berangkat dari Tangerang. Sampai di Gunung Ciremai pada tanggal 15 Januari 2019, kurang lebih pukul 13.00. Kenapa kok ke Gunung Ciremai? Karena sebelum ke Rogojembangan, saya ke Ciremai dulu berdua. Skip saja bagian Ciremainya, bisa diceritakan lain hari. Setelah dari Gunung Ciremai, saya menyambangi kediaman mbah kawan saya yang lain di Tegal. Kawan saya ini bernama Bayu. Dia sudah menunggu di...

Commuter Line

 Aku memilih untuk banyak belajar dari apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan. Suatu ketika, aku sedang berjalan jauh dengan trasportasi umum bernama Commuter Line. Anak muda seumuranku baru saja masuk bersamaku ke dalam sebuah gerbong. Lalu, ia langsung duduk di sebuah tempat duduk yang kosong. Aku? Memilih berdiri di tempat favoritku; samping pintu. Beberapa stasiun berlalu, ada seorang ibu paruh baya masuk. Ia terlihat lelah seperti sudah dipecundangi hari. Lantas apa yang terjadi? Anak muda seumuranku tadi langsung memejamkan matanya. Memang keadaan dalam gerbong itu cukup penuh. Tempat duduk pun penuh setelah melewati beberapa stasiun. Ironis. Ia memilih tidur dibandingkan memberikan tempat duduknya kepada ibu tadi. Aku memperhatikan sejenak, lalu kemudian orang itu datang, mencari orang yang pantas tempat duduknya diberikan kepada ibu tadi. Lalu berdirilah perempuan yang kelihatannya baru saja pulang dari kantornya. Berkalungkan lanyard, rambut terkuncir, dengan rok sebetis....

Masih

Setelah tahun demi tahun berlalu, kita masih saja bersama Memangnya, apa yang spesial dariku? Selain isi kepala yang tak akan pernah kau tahu isinya? Aku bisa saja tiba-tiba melontarkan pertanyaan, "Kenapa harus penyu yang umurnya 350 tahun? Kenapa bukan kita?" Apakah kamu bisa menjawabnya? Tentu, tidak tahu. Tidak tahu kamu bisa menjawab atau tidak Perjalanan sudah cukup panjang Aku menantikan seperti apa ujung jalan ini Akan melewati jalan rusak lagi? Melewati jalan berbatu lagi? Melewati persimpangan lagi? Atau sudah akan berhenti? Karena sudah berada di ujung jalan buntu, yang tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan perjalanan Atau berlanjut ke jalan selanjutnya yang mengharuskan kita lebih bertanggungjawab Entahlah Kepalaku yang tidak seberapa ini terlalu pusing untuk memikirkannya Kamu bilang, kamu merasakan apa yang aku rasakan Tidak, sayang. Orang lain tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan Mereka hanya mengira-ngira kamu sedang merasakan apa Tidak benar-benar tah...

24

Gambar
Di tahun ke-24, apa yang akan kamu sampaikan kepada dirimu sendiri? Mungkin kamu tahu, aku adalah orang yang senang sekali bernostalgia. Tentang apapun. Apalagi tentangmu. Jadi, biar aku mulai dengan sebuah pertanyaan, "Sudah sampai mana kita hari ini?" Tempatnya empat tahun lalu, ketika umurmu menginjak 20 tahun pada 2016, kita berkesempatan untuk mengabadikan momen di sebuah kegiatan bernama Semarak Bulan Bahasa di Auditorium Untirta. Saat itu, aku mengenakan kemeja dengan aksen kotak-kotak hitam dan merah yang aku beli di pasar dekat rumahku dan kamu mengenakan kemeja kotak-kotak beraksen ungu dan putih. Aku saat itu berkalung nametag  panitia yang belum sempat diambil dan kamu hendak keluar dari audit karena sudah menyelesaikan tugas. Sudah ku sampaikan bukan, tentang bagaimana aku akhirnya menyukaimu? Dengan sedikit keberanian, aku mengangkat gawaiku dan mendekat padamu dan disambut baik olehmu. Sampai akhirnya, empat tahun berlalu sejak hari itu, tidak banyak yang berub...